Sejarah Panjalu

Panjalu merupakan sebuah kerajaan yang dipimpin oleh Ratu Permana Dewi seorang bangsawan keturunan Gunung Bitung. Lalu menikah dengan Rangga Gumilang, bangsawan  dari keturunan Gunung Syawal. Pernikahan keduanya menandai berdirinya Kerajaan Panjalu, dengan Ratu Permana Dewi sebagai penguasa utama. Asal-usul nama Panjalu memiliki dua makna yang berkembang di masyarakat. Kata Pan berarti “di luhur”Jalu berarti “di handap”. Nama ini diberikan karena pada masa itu kerajaan dipimpin oleh seorang perempuan, yaitu Ratu Permana Dewi. Konon, nama “Panjalu” terbentuk dari kata Jalu yang diberi awalan Pan yang diberi arti perempuan, sebagai penanda bahwa kerajaan tersebut pernah diperintah oleh sang ratu.

Kepemimpinan Ratu Permana Dewi kemudian diwariskan kepada putranya, Prabu Lembu Sampulur I yang dimakamkan di Gunung Tilu. Setelah Prabu Lembu Sampulur I, tahta kerajaan panjalu dilanjutkan oleh Prabu Sanghyang CakraDewa, yang dimakamkan di Cipanjalu. Prabu  Sanghyang Cakra Dewa mempunyai 6 (enam) orang putra yaitu :

1. Sanghyang Lembu Sampulur II;

2. Sanghyang Borosngora;

3. Sanghyang Panjibarani;

4.Sanghyang Anggarunting;

5.Ratu Mangprang Kantjana Artaswayang;

6. Ratu Pundut Agung ( diperisteri Maharaja Sunda );

Ketika Prabu Sanghyang CakraDewa sudah tua, menyerahkan tahta kerajaam kepada Lembu Sampulur II yaitu anak pertamanya. Namun, Lembu Sampulur II tidak lama memimpin karena berpindah ke Tatar Sumedang. Kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh putra keduanya, yaitu  Prabu BorosNgora.

Sebelum Prabu BorosNgora diangkat menjadi Raja Panjalu, ayahandanya, Prabu Sanghyang Cakra Dewa, memberikan sebuah amanat penting. Ia memerintahkan putra untuk terlebih dahulu mencari ilmu Sejati, sebelum diangkat menjadi Raja Panjalu. Prabu Sanghyang Cakra Dewa telah mengetahui bahwa di masa mendatang ilmu yang dapat membawa keselamatan bagi seluruh umat manusia baik di dunia maupun di akhirat, adalah ilmu sejati yang keberadaannya telah ada bahkan sebelum datangnya agama Islam. Keyakinan inilah yang mendorong beliau untuk memerintahkan putranya, Prabu BorosNgora, agar berangkat mencari ilmu sejati tersebut. Perjalanan ini dianggap penting sebagai bekal untuk memimpin kerajaan sekaligus membimbing rakyat menuju keselamatan.

Sebelum Prabu BorosNgora berangkat mencari ilmu sejati , Prabu Sanghyang Cakra Dewa memberikan sebuah ujian simbolis berupa gayung bolong. Ia berpesan, kelak ketika kembali ke Kerajaan Panjalu, sang putra harus membawa air di dalam gayung tersebut tanpa bocor setetes  pun. Amanat ini bukan sekedar tugas fisik, melainkan perlambang bahwa dalam perjalanan mencari ilmu, seseorang harus mampu menjaga dan memelihara amanah dengan sempurna. Setelah menerima pesan tersebut, Prabu BorosNgora memulai perjalanan panjangnya. Ia mendatangi berbagai tokoh berilmu tinggi dari berbagai daerah, memohon agar mereka berkenan mengajarkan ilmunya. Namun, pengetahuan yang ia temui belum sesuai dengan maksud sang ayah, yakni ilmu sejati yang dapat membawa keselamatan hidup di dunia dan akhirat. Perjalanan yang penuh pencarian itu membuat Prabu BorosNgora semakin merenung, hingga akhirnya ia memutuskan untuk bertafakur meminta petunjuk. Setelah menempuh perjalanan panjang mencari ilmu sejati, Prabu BorosNgora akhirnya bertafakur dengan penuh ketenangan. Dalam perenungan itu, beliau mendapatkan petunjuk bahwa dirinya harus berangkat menuju Mekkah. Tanpa ragu, Prabu BorosNgora pun mempersiapkan diri dan memulai perjalanan menuju tanah suci. Sesampainya di Mekkah, beliau bertemu dengan seorang tokoh sepuh yang ternyata adalah Sayidina Ali bin Abi Thalib RA, sahabat keempat Rasulullah SAW. Saat itu, tahun menunjukkan 650 Masehi, sekitar delapan belas tahun setelah wafatnya Kanjeng Nabi Muhammad SAW pada tahun 632 Masehi.

Prabu BorosNgora kemudian menyampaikan maksud kedatangannya kepada Sayidina Ali R.A, bahwa beliau sedang menjalankan amanat untuk mencari ilmu sejati yang dapat membawa keselamatan dunia dan akhirat. Dengan penuh kebijaksanaan, Sayidina Ali menerima Prabu BorosNgora, lalu membawanya ke kediamannya. Di bawah bimbingan langsung Sayidina Ali RA, Prabu BorosNgora memeluk agama Islam dan resmi menjadi seorang muslim. Sejak saat itu, beliau mempelajari ajaran Islam.

Setelah dirasa cukup menimba ilmu agama Islam, Prabu BorosNgora memohon izin untuk kembali ke Kerajaan Panjalu. Sebelum berangkat pulang, Sayidina Ali R.A., memberikan sebuah cenderamata sebagai tanda kasih dan amanah: Sebuah pedang, cis , serta kumpulan perlengkapan haji, termasuk kain ihram. Selain itu, Sayidina Ali juga menganugerahkan nama baru kepada beliau, yakni Prabu Syekh H. Abdul Iman , sebagai tanda bahwa dirinya kini telah memeluk Islam dan siap membawa cahaya keimanan ke tanah kelahirannya.

Prabu BorosNgora mendapat amanat dari ayahandanya, Prabu Sanghyang Cakra Dewa, untuk mengisi gayung yang berlubang dengan diisi Air. Amanat tersebut memiliki makna mendalam, sebagai ujian kebijaksanaan dan keteguhan hati dalam menempuh perjalanan mencari ilmu sejati. Atas petunjuk Sayidina Ali RA, Prabu BorosNgora diarahkan untuk mengisi gayung tersebut dengan air dari sumur suci Zamzam di Mekkah. Dengan penuh keyakinan, beliau berangkat menuju sumur Zamzam. Sesampainya di sana, beliau menciduk air Zamzam dengan gayung berlubang tersebut. Masyaallah, dengan izin dan kekuasaan Allah, air itu tidak tumpah sedikit pun.

Setelah menuntaskan perjalanannya, Prabu BorosNgora kembali ke Kerajaan Panjalu. Ayahandanya, Prabu Sanghyang Cakra Dewa, masih menunggu dengan penuh harap agar sang putra membawa pulang ilmu sejati yang dicari selama ini. Dengan penuh rasa syukur, Prabu BorosNgora menghadap ayahandanya. Beliau menyampaikan bahwa ilmu sejati yang diperolehnya adalah ilmu agama Islam, sebuah pedoman hidup yang membawa keselamatan bagi manusia di dunia dan di akhirat. Sebagai tanda keberhasilan perjalanannya, Prabu BorosNgora memberitahukan berbagai cendera mata pemberian oleh Sayidina Ali RA, di antaranya sebuah pedang, cis, kain ihrom,  berbagai cendera mata lainnya, serta air suci Zamzam yang penuh berkah. Ia juga menceritakan kepada ayahandanya, Prabu Sanghyang Cakradewa, bahwa ilmu sejati yang selama ini dicari adalah ilmu agama Islam, sebagai pedoman keselamatan hidup di dunia dan di akhirat.

Setelah kembali dari perjalanannya, Prabu BorosNgora menceritakan kepada ayahandanya, Prabu Sanghyang Cakradewa, bahwa ilmu sejati yang selama ini dicari ternyata adalah ilmu agama Islam pedoman hidup yang membawa keselamatan di dunia dan di akhirat. Mendengar hal itu, Prabu Sanghyang Cakradewa merasa bangga dan bersyukur, lalu menyerahkan tahtanya kepada putranya, Prabu BorosNgora, untuk memimpin Kerajaan Panjalu. Setelah Prabu BorosNgora resmi menggantikan ayahandanya sebagai Raja Panjalu, ia segera menerapkan ajaran  Syariat Agama Islam dengan menetapkan kewajiban shalat lima waktu.

Pada masa pemerintahannya, Prabu BorosNgora memutuskan untuk memindahkan pusat Kerajaan Panjalu dari Karang Luhur ke Pasir Jambu. Wilayah Pasir Jambu dipilih sebagai lokasi keraton baru, Untuk mewujudkan hal tersebut, Legok Jambu sebuah cekungan alami di daerah itu dibendung, sehingga terbentuklah sebuah danau yang kini dikenal sebagai Situ Panjalu. Pada masa itu, luas Situ Panjalu mencapai sekitar tujuh puluh hektar, sedangkan wilayah Pasir Jambu yang dijadikan pusat kerajaan memiliki luas sekitar 9,25 hektar. Keraton yang berdiri di atasnya kemudian dikenal sebagai Keraton Legok Jambu, yang kini disebut Nusa Gede. Kemudian dalam pembangunan tersebut, Prabu BorosNgora mencampurkan air suci Zamzam yang dibawanya dari Mekah ke dalam bendungan Legok Jambu. Menurut sejarah Panjalu, Situ Lengkong bukanlah danau alami, melainkan hasil karya Prabu BorosNgora pada tahun 650 Masehi.

Setelah Prabu BorosNgora sebagai Raja Panjalu, beliau memindahkan pusat kerajaan ke tengah danau yang kini dikenal sebagai Situ Panjalu. Namun, masa pemerintahannya tidak berlangsung lama. Hal itu karena pikiran lebih banyak tertuju pada tugas suci untuk menyebarkan ajaran agama Islam di berbagai wilayah. Prabu BorosNgora dikaruniai dua orang putra: yang pertama Prabu Hariyang Kuning, dan yang kedua Prabu Hariyang Kantjana. Sebelum berangkat meninggalkan kerajaan demi melanjutkan syiar Islam, Prabu BorosNgora menyerahkan tahta kerajaan panjalu kepada putra sulungnya, Prabu Hariyang Kuning. Kemudian, Prabu Hariyang Kuning hanya sempat memimpin kerajaan panjalu dalam waktu yang singkat. Beliau wafat dan dimakamkan di Cikapunduhan.

Sepeninggal Prabu Hariyang Kuning, tahta Kerajaan Panjalu diserahkan kepada adiknya, Prabu Hariyang Kantjana. Prabu Hariyang Kantjana mampu memimpin Kerajaan Panjalu dalam masa yang panjang, bahkan tercatat memerintah selama lebih dari seratus tahun. Setelah itu, Prabu Hariyang Kantjana wafat dimakamkan di tengah danau, yang kini dikenal sebagai Nusa Gede di Situ Panjalu. Pulau kecil ini menjadi situs bersejarah dan tempat ziarah yang menyimpan jejak peradaban Panjalu pada masa lampau.

Prabu BorosNgora dikenal sebagai tokoh penyebar agama Islam yang berpengaruh, terutama di wilayah Jawa Barat, Di setiap daerah tempat ia singgah, jejak dakwahnya meninggalkan petilasan yang menjadi saksi sejarah perjalanan ia dalam menyebarkan Islam. Menjelang wafat, Prabu BorosNgora menitipkan sebuah amanat “sing saha isuk pageto anak incu kaula hayang ziarah ka kaula teu perlu neang ka pakuburan atanapi pamakoman kaula, tapi cukup ku ningali benda-benda pusaka kakantunana anu disimpen di bumi alit”

Benda-benda pusaka tersebut memiliki nilai sejarah dan spiritual yang tinggi, sehingga setiap tahun dilaksanakan tradisi Nyangku, yaitu prosesi pencucian pusaka. Budaya Nyangku ini diadakan sekali dalam setahun, setelah Prabu BorosNgora wafat pada bulan Rabiul Awal atau bulan Mulud. Tanggal pelaksanaan tidak ditetapkan secara pasti, namun harinya selalu Senin atau Kamis, tepat di akhir bulan Mulud. Tradisi Nyangku menjadi momen sakral di mana masyarakat dapat melihat secara langsung Dhohir pusaka-pusaka peninggalan Prabu BorosNgora, sekaligus mengenang jasa beliau sebagai penyebar Islam dan pendiri peradaban di Panjalu.

Resources

Mahasiswa KKN Desa Panjalu Universitas Galuh Ciamis

kknunigaldesapanjalu@gmail.com

Narasumber : H. Ono (Juru Kunci Bumi Alit Panjalu)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *